Showing posts with label Medikal Bedah. Show all posts
Showing posts with label Medikal Bedah. Show all posts

Tuesday, November 7, 2017

MENGENAL NUTRISI PADA PENDERITA GAGAL GINJAL KRONIK


mengenal nutrisi untuk penderita gagal ginjal kronik atau pasien hemodialisa

Nutrisi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (CKD)

Gagal ginjal kronik merupakan akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999). Gagal Ginjal Kronik adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut”. (Suyono, S., dkk, 2001).
Gagal Ginjal Kronik ini menyebabkan suatu kondisi yang permanen dan irreversible dimana ginjal berhenti untuk membuang sampah metabolik dan air yang berlebihan dari darah.

Penyebab Gagal Ginjal Kronik

Penyebab dari gagal ginjal kronik menurut Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., (1995), Ignatavicius, D., et all, (1995) adalah :

1. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (ISK) sering terjadi dan menyerang manusia tanpa memandang usia, terutama wanita. Infeksi saluran kemih umumnya dibagi dalam dua kategori besar : Infeksi saluran kemih bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi saluran kencing bagian atas (pielonepritis akut). Sistitis kronik dan pielonepritis kronik adalah penyebab utama gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak.

2. Penyakit Peradangan
Kematian yang diakibatkan oleh gagal ginjal umumnya disebabkan oleh glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis kronik, akan terjadi kerusakan glomerulus secara progresif yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal.
a. Penyakit vaskular hipertensif
Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki  kaitan yang erat. Hipertensi mungkin merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh vasopresor dari sistem renin-angiotensin.
b. Gangguan jaringan penyambung
Penyakit jaringan penyambung (penyakit kolagen) adalah penyakit sistemik yang manifestasinya terutama mengenai jaringan lunak tubuh, dan yang sering terserang adalah ginjal. Penyakit jaringan penyambung yang dapat menyebabkan gagal ginjal diantaranya adalah lupus eritematosus sistemik (SLE) dan sklerosis sistemik progresif (skleroderma).
c. Gangguan kongenital dan herediter
Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan penyakit herediter yang terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik.
d. Penyakit metabolic
Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal kronik antara lain diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme primer dan amiloidosis.
e. Nefropati toksik
Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan bahan-bahan kimia karena alasan-alasan berikut :
1) Ginjal menerima 25 % dari curah jantung, sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah yang besar.
2) Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia dikonsentrasikan pada daerah yang relatif hipovaskular.
3) Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan obat, sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus.
Gagal ginjal kronik dapat diakibatkan penyalahgunaan analgesi dan paparan timbal.
f. Nefropati obstruktif
Obstruksi pada saluran kemih dapat menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Adapun obstruksi saluran kemih yang dapat menyebabkan gagal ginjal diantaranya :
1) Saluran kemih bagian atas
(1) Kalkuli 
(2) Neoplasma
(3) Fibrosis
(4) Retroperitoneal
2) Saluran kemih bagian bawah
(1) Hipertrofi prostat
(2) Karsinoma prostat
(3) Striktur uretra
(4) Anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra

Tanda Dan Gejala Gagal Ginjal Kronik
1. Manifestasi klinik  antara lain (Long, 1996) :
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin -  angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.

b. Gangguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.

c. Gangguan  gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.

d. Gangguan  muskuloskeletal
Resiles leg sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan), burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki), tremor, miopati (kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas.

e. Gangguan Integumen
kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.

f. Gangguan endokrim
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.

g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.

h. System hematologi
anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik
Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan Gagal Ginjal Kronik dibagi tiga yaitu :
a) Konservatif
- Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin
- Observasi balance cairan
- Observasi adanya odema
- Batasi cairan yang masuk

b) Dialysis
- Peritoneal dialysis
Biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut  adalah CAPD (Continues Ambulatori Peritonial Dialysis)  
- Hemodialisis
Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :
- AV fistule : menggabungkan vena dan arteri
- Double lumen : langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke jantung)

c) Operasi
- Pengambilan batu
- transplantasi ginjal

Diit Nutrisi Untuk Gagal Ginjal Kronik

a. Tujuan Diet Penyakit Ginjal Kronik
1) Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan memperhitungkan sisa fungsiginjal, agar tidak memberatkan kerja ginjal.
2) Mencegah dan menurunkan kadar ureum darah yang tinggi (uremia).
3) Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
4) Mencegah atau mengurangi progresifitas gagal ginjal, dengan memperlambat turunnya laju filtrasi glomerulus (Almatsier, 2006).

Pada penderita GGK sering terjadi mual, muntah, anoreksia, dan gangguan lain yang menyebabkan asupan gizi tidak adekuat/ tidak mencukupi. Syarat pemberian diet pada gagal ginjal kronik adalah (Almatsier 2006) :
• Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB.
• Protein rendah, yaitu 0,6 – 0,75 gr/kg BB.
• Lemak cukup, yaitu 20-30% dari kebutuhan total energi, diutamakan lemak tidak jenuhganda.
• Karbohidrat cukup, yaitu: kebutuhan energi total dikurangi yang berasal dari protein danlemak.
• Natrium dibatasi apabila ada hipertensi, edema, acites, oliguria, atau anuria, banyak natrium yang diberikan antara 1-3 g.
• Kalium dibatasi (60-70 mEq) apabila ada hiperkalemia (kalium darah > 5,5 mEq), oliguria,atau anuria.
• Cairan dibatasi yaitu sebanyak jumlah urine sehari ditambah dengan pengeluaran cairanmelalui keringat dan pernapasan (±500 ml).
• Vitamin cukup, bila perlu berikan suplemen piridoksin, asam folat, vitamin C, vitamin D.
• Ada tiga jenis diet yang diberikan menurut berat badan pasien, yaitu :
• Diet Protein Rendah I     : 30 gr protein diberikan kepada pasien dengan berat badan 50 kg.
• Diet Protein Rendah II     : 35 gr protein diberikan kepada pasien dengan berat badan 60 kg.
• Diet Protein Rendah III     : 40 gr protein diberikan kepada pasien dengan berat badan 65 kg.Karena kebutuhan gizi pasien penyakit ginjal kronik sangat bergantung pada keadaan dan berat badan perorangan, maka jumlah protein yang diberikan dapat lebih tinggi atau lebih rendah daripadastandar. Untuk protein dapat ditingkatkan dengan memberikan asam amino esensial murni.

MENU DIIT YANG DIANJURKAN
Pola konsumsi makanan merupakan gambaran mengenai jumlah jenis dan frekuensi bahan makananyang dikonsumsi seseorang sehari-hari dan merupakan ciri khas pada suatu kelompok masyarakattertentu. Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi seseorang(Harper, 1985). Sedangkan menurut Suharjo (1996), pola konsumsi pangan adalah cara seseorangatau sekelompok orang dalam memilih makanan sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, kebudayaan, dan sosial. Pengaturan diet atau makanan pada gagal ginjal sangat berpengaruh bagi penyakit ginjal.
Contoh susunan bahan makanan sehari untuk pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa
 

Waktu

Bahan makanan

Berat

URT

Pagi

Beras

75 gr

1 gelas tim

Telur

50 gr

1 butir

Mezena

20 gr

4 sdm

Sayuran

50 gr

¾ gelas

Gula pasir

20 gr

2 sdm

Minyak

10 gr

1 sdm

Tepung susu whole

10 gr

2 sdm

Pukul

Maizena

10 gr

2 sdm

10.00

Gula pasir

20 gr

2 sdm

Minyak

10 gr

1 sdm

Beras

75 gr

1 gelas tim

Daging

25 gr

1 potong kecil

Telur

25 gr

½ butir

Siang

Sayuran

75 gr

¾ gelas

Buah

100gr

1 potong pepaya

Minyak

10 gr

1 sdm

gula pasir

10 gr

1 sdm

Pukul 16.00

Maizena

10 gr

1 sdm

Gula pasir

20 gr

2 sdm

Minyak

10 gr

1 sdm

Sore

Beras

75 gr

1 gelas tim

Daging

25 gr

1 potong kecil

Telur

25 gr

½ butir

Sayuran

75 gr

¾ gelas

Buah

100 gr

1 potong papaya

Minyak

10 gr

1 sdm

Gula pasir

10 gr

1 sdm

 Pukul 21.00

Tepung susu whole

20 gr

4 sdm

Gula pasir

20 gr

4 sdm



Monday, October 23, 2017

KONSEP DAN PERSPEKTIF KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

konsep dan perspektif keperawatan medikal bedah


Definisi Keperawatan Medikal Bedah

Keperawatan Medikal Bedah adalah pelayanan profesional yang berdasarkan pada ilmu keperawatan medikal bedah dan teknik keperawatan medikal bedah berbentuk pelayanan Bio-psiko-sosio-spiritual, peran utama perawat adalah memeberikan asuhan keperawatan kepada manusia (sebagai objek utama pengkajian filsafat ilmu keperawatan: ontologis). (Nursalam, 2008: hal 14) .
Pengertian keperawatan medikal bedah Menurut (Raymond H. & Simamora, 2009: hal 20) mengandung 3 hal ialah :
1. Mengembangkan diri secara terus-menerus untuk meningkatkan kemampuan professional dalam medikal bedah dengan cara :
a. Menerapkan konsep-konsep keperawatan dalam melaksanakan kegiatan keperawatan.
b. Melaksanakan kegiatan keperawatan dalam menggunakan pendekatan ilmiah.
c. Berperan sebagai pembaru dalam setiap kegiatan keperawatan pada berbagai tatanan pelayanan keperawatan.
d. Mengikuti perkembangan IPTEK secara terus-menerus melalui kegiatan yang menunjang.
e. Mengembangkan IPTEK keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu.
f. Berperan aktif dalam setiap kegiatan ilmiah yang relevan dengan keperawatan.
2. Melaksanakan kegiatan penelitian rangaka pengembangan ilmu keperawatan medikal bedah dengan cara :
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan dengan menganlisis, menyintesis informasi yang relevan dari berbagai sumber dan memerhatikan perspektif lintas budaya.
b. Merencanakan dan melaksanakan penelitian dalam bidang keperawatan keperawatan medikal bedah.
c. Menerapkan prinsip dan tekhnik penalaran yang tepat dalam berpikir secara logis, kritis, dan mandiri. 3. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka untuk menerima perubahan, dan berorientasi pada masa depan dengan cara :
a. Menggali dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya untuk membantu meneyelesaikan masalah masyarakat yang terkait dengan keperawatan medikal bedah.
b. Membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan dan mengelola sumber yang tersedia.

Peran dan fungsi Perawat
Peran dan fungsi perawat khususnya di rumah sakit adalah memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan melalui berbagai proses atau tahapan yang harus dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada pasien. Tahapan yang dilakukan tentunya berdasarkan standar yang diakui oleh pemerintah maupun profesi perawat (Sumijatun, 2011: hal 1).
Salah satu bagian yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan adalah pelayanan keperawatan. Pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan komponen terbesar dari sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi (Kuntoro, 2010: hal 1).
Pelayanan keperawatan merupakan proses kegiatan natural dan berurutan yang dilakukan oleh perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Pelayanan diberikan karena adanya keterbatasan atau kelemahan fisik dan mental. Keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri. Kegiatan keperawatan dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan, pemeliharaan kesehatan dengan penekanan upaya pelayanan kesehatan sesuai wewenang, tanggung jawab dan etika profesi keperawatan sehingga memungkinkan setiap individu mencapai kemampuan hidup sehat. Tenaga kesehatan yang paling banyak jumlahnya dalam memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit dan sering berinteraksi dengan klien adalah perawat (Asmuji, 2012: hal 1)

Lingkup Praktek Keperawatan Medikal Bedah
Menurut Lingkup praktek keperawatan medikal-bedah merupakan bentuk asuhan keperawatan pada klien dewasa yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah nyata atau terprediksi mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecacatan. Asuhan keperawatan meliputi perlakuan terhadap individu untuk memperoleh kenyamanan; membantu individu dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi sehatnya; melakukan prevensi, deteksi dan mengatasi kondisi berkaitan dengan penyakit: mengupayakan pemulihan sampai klien dapat mencapai kapasitas produktif tertingginya; serta membantu klien menghadapi kematian secara bermartabat. Praktek keperawatan medikal bedah menggunakan langkahlangkah ilmiah pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi; dengan memperhitungkan keterkaitan komponen-komponen bio-psiko-sosial klien dalam merespon gangguan fisiologis sebagai akibat penyakit, trauma atau kecacatan. (Nur hidayah, 2014: hal 417- 418).
Lingkup keperawatan medikal bedah menurut, (Nursalam, 2008 61 -63) :
1. Lingkup masalah penelitian pengembangan konsep dan teori keperawatan masalah penelitian difokuskan pada kajian teori-teori yang sudah ada dalam upaya meyakinkan masyarakat bahwa keperawatan adalah suatu ilmu yang berbeda dari ilmu profesi kesehatan lain serta kesesuaian penerapan ilmu tersebut dalam bidang keperawatan.
2. Lingkup masalah penelitian kebutuhan dasar manusia meliputi identifikasi sebab dan upaya untuk memenuhi kebutuhan.
3. Lingkup masalah penelitian pendidikan keperawatan
4. Lingkup masalah penelitian manajemen keperawatan
a. Model asuhan keperawatan medikal bedah
b. Peran kinerja perawat
c. Model sistem pencatatan dan pelaporan
5. Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan medikal bedah di fokuskan pada asuhan keperawtan melalui pendekatan proses keperawatan. Topic masalah didsarkan pada gangguan sistem tubuh yang umum terjadi pada klien dewasa. Ilmu keperawatan medikal bedah menurut (Nursalam,2008: hal 67-68) :
a. Sistem kekebalan tubuh
b. Sistem respirasi dan oksigensi
c. Sistem kardiovaskuler
d. Sistem persyarafan.

Komponen keperawatan medikal bedah
Ada 5 objek utama dalam ilmu keperawatan: manusia, individu (yang mendapatkan asuhan keperawatan) keperawatan, konsep sakit, aplikasi tindakan keperawatan. Menurut (Nursalam, 2008: hal 16)
1. Manusia Penerima asuhan keperawatan adalah manusia, individu, kelommpok, komunitas, atau social. Masing-masing diperlakukan oleh perawat sebagai sistem adaptasi yang holistic dan terbuka. (Nursalam, 2008: hal 16)
2. Keperawatan Bentuk pelayanan professional berupa pemenuhan kebutuhan dasar yang diberikan kepada individu yang sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik, psikis, dan social agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. (Nursalam, 2008: hal 20)
3. Konsep sehat-sakit Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif
a. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
b. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
c. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup. Sakit adalah suatu kondisi dimana kesehatan tubuh lemah. (Webster’s New Collegiate Dictionary).Sakit adalah keadaan yang disebabkan oleh bermacam-macam hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun fungsi keseluruhan. (Nursalam, 2008: hal 21)
4. Konsep lingkungan Lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari internal dan eksternal, yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dan prilaku seseorang dan kelompok. Lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman, sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan emosional, kepribadian) dan proses stressor biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu. (Nursalam, 2008: hal 21)
5. Aplikasi pada asuhan keperawatan: Proses keperawatan, menurut (Nursalam, 2008: hal 21)
a. Pengakajian
b. Perumusan diagnosis keperawatan
c. Intervensi keperawatan
d. Pelaksanaan
e. Evaluasi

Tren dan Issu keperawatan medikal bedah
1. Tren Keperawatan Medikal Bedah
a. Peluang riset keperawatan di masa depan Tentang riset keperawatan yang di laksnakan oleh perawat, khususnya dosen keperawatan menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Hampir 90 % perawat di daerah jawa tidak melaksanakan riset dalam perannya. Merekamenyadari dan menerima bahwa riset adalah bagian dari perannya tetapi juga ada pertanyaan “whether researche is a nurse
primary responsibility pr not, all nurses should also involve in nursing research?”
b. Lokasi tempat bekerja Menariknya dari 4 hambatan yang penulis tanyakan (biaya, waktu, keahlian, dan kebijaksanaan), jawaban responden sangat bervariasi dan adanya suatu korelasi yang kuat antarvariabel. Misalnya mereka yang bekerja di Jakarta mengatakan bahwa anggaran untuk riset dapat di peroleh dengan mudah, sebaliknya yang bekerja di luar Jakarta mengalami kesulitan. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan (keahlian) perawat yang bekerja di Jakarta lebih baik karena mereka rata-rata memiliki pendidikan D3 dan S1 kesehatan masyarakat, sehingga proposal yang ditulis lebih bias diterima oleh pemberi dana. Di samping itu juga karena faktor kesempatan dan informasi yang cepat bagi perawat Jakarta. (Nursalam, 2008: hal 28)
c. Keahlian perawat dalam riset Perawat yang bekerja di luar Jakarta sebagian besar mereka berbasis pendidikan D3 keperawatan hampir 95% mengalami masalah tentang keterampilan atau keahlian penulisan proposal/pelaksanaan penelitian. Keadaan ini diperparah dengan tidak adanya suatu lembaga yang yang menangani riet keperawatan dalam organisasi pelayanan kesehatan. (Nursalam, 2008: hal 28) d. Waktu pelaksaan yang terbatas Perawat pendidik mempunyai tugas yang sangat besar dalam pembelajaran di kelas dan di klinik serta kegiatan-kegiatan non pembelajaran, misalnya administrasi, oleh karena itu waktu perawat habis untuk kegiatan tersebut. (Nursalam, 2008: hal 28)
e. Topik riset keperawatan yang tidak sesuai Berdasarkan hasil kajian penulis, banyak perawat yang belum memahami tentang lingkup riset keperawatan. Topik-topik yang dipilih lebih bersifat kesehatan secara umum, sehingga hasil yang di dapatkan kurang memberikan kontribusi yang bermakna untuk diapliksikan dalam praktik keperawatan. (Nursalam, 2008: hal 29)
2. Issu Keperawatan Medikal Bedah. Issu Keperawatan Medikal Bedah, menurut (Nursalam, 2011: hal 25) :
a. Antithetical terhadap perkembangan ilmu keperawatan Karena rendahnya dasar pendidikan profesi dan belum dilaksanakannya pendidikan keperawatan secara professional, maka perawat lebih cendrung untuk melaksanakan perannya secara rutin dan menunggu perintah dari dokter. Mereka cendrung untuk menolak terhadap perubahan ataupun sesuatu yang baru dalam melaksanakan perannya secara professional.
b. Rendahnya rasa percaya diri /harga diri (Low self-confidenceself) Banyak perawat yang tidak melihat dirinya sebagai sumber informasi dari klien. Perasaan rendah diri/kurang percaya diri tersebut timbul karena rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang kurang memadai serta sistem pelayanan Indonesia yang menempatkan perawat sebagai warga negara kelas dua. Stigma inilah yang membuat perawat dipandang tidak cukup memiliki kemampuan yang memadai dan kewenangan dalam pengambilan kepeutusan di bidang pelayanan kesehatan.
c. Kurangnya pemahaman dan sikap untuk melaksanakan riset keperawatan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, lebih dari 90% perawat tidak melaksanakan perannya dalam melaksanakan riset. Hal ini lebih disebabkan oleh: pengetahuan/keterampilan riset yang sangat kurang, keterbatasan waktu, tidak adanya anggaran karena kebijakan yang kurang mendukung pelaksanaan riset. Baru pada tahun 2000-an, pusdiknakes memberikan kesempatan kepada para perawat untuk melaksanakan riset, itupun hasilnya memberi masih dipertanyakan karena banyak hasil yang ada lebih lebih mengarah pada riset kesehatan secara umum. Riset tentang keperawatan hampir belum tersentuh. Faktor lain yang sebenarnya sangat memperihatinkan adalah tugas ahir yang diberikan kepada mahasiswa keperawatan bukan langkah-langkah riset secara ilmiah, tetapi lebih menekankan pada laporan kasus per kasus.
d. Pendidikan keperawatan hanya difokuskan pada pelayanan kesehatan yang sempit Pembinaan keperawatan dirasakan kurang memenuhi sasaran dalam memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Pendidikan keperawatan dianggap sebagai suatu objek untuk kepentingan tertentu dan tidak dikelola secara professional. Kurikulum yang diterapkan lebih mengarahkan perawat tentang how to work and apply, bukan how to think and do criticall.
e. Rendahnya standar gaji bagi perawat Gaji perawat, khususnya yang bekerja di instansi pemerintah dirasakan sangat rendah bila dibandingkan dengan negara lain, baik Asia ataupun Amerika. Keadaan ini berdampak terhadap kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang professional.
f. Sangat minimnya perawat yang menduduki pimpinan di institusi kesehatan Masalah ini sangat krusial bagi pengembangan profesi keperawatan, karena sistem sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan yang baik. Hal ini tentunya akan mempengaruhi perkembangan keperawatan di Indonesia, karena dampaknya semua kebijakan yang ada biasanya kurang berpihak terhadap kebutuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam.2008.Konsep & Metode Keperawatan (ed. 2). Jakarta: Salemba medika.
Nur Hidayah.Jurnal Kesehatan.Volume 7 No. 2/2014
Nursalam.2011.Manajemen keperawatan aplikasi dalam praktik keperawatan professional edisi 3. Jakarta: Salemba medika
Kartika dewi,Dkk 2013.Analisa jam perawat pada pasien bedah.Riau: Program studi ilmu keperawatan.
Raymond H. & Simamor.2009.Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Buku kedokteran Jakarta : EGC.

Monday, October 16, 2017

TIROIDEKTOMI

laporan mengenai tiroidektomi

A. Definisi
Tiroidektomi adalah penghapusan total atau sebagian dari kelenjar tiroid (Mark Oren, 2007)

Tiroidektomi adalah sebuah operasi yang melibatkan operasi pemindahan semua atau sebagian dari kelenjar tiroid (Wikipedia, 2008).

Thyroidectomy adalah eksisi kelenjar tiroid (Dorlan (1998).

B. Klasifikasi
Menurut Mark Oren (2007) klasifikasi atau jenis tiroidektomi adalah:
1. Total tiroidektomi
Menghapus seluruh tiroid. Ini mungkin tetap direkomendasikan dalam kasus-kasus dimana tumor ini terletak di kedua lobus kelenjar tiroid (multilokal) atau ketika kanker agresif.
2. Nyaris total tiroidektomi
Meninggalkan sebagian kecil dari tiroid utuh. Keuntungan dari prosedur ini adalah bahwa hal itu daun pinggiran kecil diseluruh jaringan kelenjar paratiroid (kelenjar kecil di dekat tiroid yang membantu mengatur tingkat kalsium), mengurangi resiko kerusakan pada kelenjar ini selama operasi.

C. Indikasi
Menurut Mark Oren (2007) indikasi dilakukan tindakan tiroidektomi adalah :
1. Gondok
Hal ini terutama diperlakukan jika pembesaran menggaggu fungsi pernafasan atau menelan.
2. Kanker Tiroid
Untuk menghapus tiroid nodul atau tiroid cancerous, kanker dan tumor.
3. Hipertiroidisme
Perbesaran kelenjar tiroid yang dapat mengganggu fungsi pernafasan dan menelan
4. Gejala Obtruksi
Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam menelan atau pernafasan.
5. Kosmetik
Kelenjar tiroid yang terlalu besar sehingga mengganggu citra tubuh seseorang.

D. Manifestasi Klinis
Menurut Tucker (1998) manifestasi klinis setelah dilakukan tindakan tiroidektomi adalah:
1. Suara serak semakin berat yang diakibatkan oleh kerusakan saraf laringeal.
2. Suara lemah dan ketidakmampuan untuk berbicara.
Karena terjadi perubahan tekanan yang diakibatkan kerusakan saraf laringeal.
3. Hipokalsemia
Tindakan tirodektomi dapat mengakibatkan cedera pada kelenjar paratiroid. Cedera ini mengakibatkan gangguan metabolisme kalsium yaitu hipokalsemi.
4. Tempat insisi kemerahan, pembekakan
Akibat dari pembedahan yang dilakukan.
5. Disfagia
Kesulitan menelan akibat nyeri post tiroidektomi.
6. Sesak tenggorokan
Akibat kerusakan laringeus pada trakea.
7. Pernafasan Stridor
Hal ini karena terjadi pendarahan edema laringeal.
8. Sianosis
Karena kerusakan pembuluh darah.

E. Patofisiologi
Indikasi dilakukan tindakan tiroidektomi adalah gondok, hipertiroidisme, kanker tiroid, gejala obstruksi dan alasan kosmetik. Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah membuat sayatan dileher bagian depan atau bagian kelenjar tiroid dihilangkan. Dalam membuat sayatan harus berhati-hati untuk menghindari kerusakan saraf di sekitarnya atau pembuluh darah di leher. Apabila terjadi kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan udem laringeal yang akan meningkatkan terjadinya resiko infeksi. Selain itu pernafasan menjadi stidor, obstruksi jalan nafas yang akhirnya mambuat pembersihan jalan napas tidak efektif. Nyeri dapat terjadi dari edema jaringan yang disebabkan karena terputusnya saraf simpatis dari kerusakan jaringan yang terjadi akibat tindakan tiroidektomi. Dari insisi yang dilakukan pada tindakan ini akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga dapat terjadi karena kurangnya informasi dalam perawatan luka setelah tindakan pembedahan dilakukan. Seseorang yang telah melakukan tiroidektomi akan mengalami hambatan dalam berkomunukasi karena terjadi kerusakan pada langireal yang menyebabkan perubahan tekanan atau penyaringan suara, suara menjadi lemah, ketidakmampuan untuk berbicara. Resiko cedera dapat terjadi akibat gangguan produksi hormon yang menurun. Tucker (1998), Doengoes (2000:720), Tamboyang (2000).

F. Persiapan Tindakan Tiroidektomi
1. Sebelum
Dalam persiapan untuk tiroidektomi, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, mengambil riwayat kesehatan yang komprehensif, Ekg, X-ray dada dan tes jantung serta tes darah. Juga penghentian pengurangan aspirin selama seminggu pre operasi dan tidak makan atau minum pada malam sebelum prosedur.
2. Selama
Selama prosedur, pasien biasanya ditempatkan di bawah anestesi umum, bagi pasien yang beresiko dengan anestesi umum, operasi dapat dilakukan dengan obat-obatan intravena di bawah anestesi regional.
3. Sesudah
Pasien tidak berpatisipasi dalam olah raga keras atau angkat berat selama 10 hari.

G. Prosedur
Menurut Mark Oren (2007) prosedur pada tiroidektomi adalah sayatan dibuat di bagian depan leher dan semua atau bagian dari kelenjar tiroid dihilangkan. Ahli bedah akan berhati-hati untuk menghindari kerusakan saraf di sekitar atau pembuluh darah di leher. Mereka juga akan bekerja untuk menjaga kelenjar tiroid, dua kelenjar kecil yang terletak di dekat tiroid. Setelah kelenjar tiroid dihapus, sayatan akan ditutup dengan jahitan.

Menurut Wikipedia (2008) langkah utama tiroidektomi adalah:
1. Exposure
Sayatan leher horizontal, + atau – mengangkat tipis, + atau – pembagian tali otot.
2. Identifikasi Srtuktur penting
3. Kelenjar paratiroid, saraf atas laringeus
4. Devascularization
5. Reseksi
6. Eksplorasi Patologi Lain
Misalnya lobus kontralateral, kelenjar getah bening.
7. Penutupan

H. Komplikasi
Menurut Mark Oren (2007), resiko yang terkait dengan tiroidektomi adalah pendarahan, infeksi, reaksi terhadap obat-obatan, masalah pernafasan. Potensial lain efek samping atau komplikasi yang berhubungan dengan operasi tiroid meliputi:

1. Pembekakan atau pendarahan di situ luka, menyebabkan masalah pernafasan.
2. Sesak sementara atau permanen dari kerusakan saraf laring berulang.
3. Kerusakan pada kelenjar paratiroid.
4. Rendahnya tingkat kalsium dalam darah (hypocalcemia).
5. Fungsi tiroid tidak memadai (hypocalcemia).
6. Ditangia (sulit menelan).

Menurut Wikipedia (2008) komplikasi tiroidektomi adalah:
1. Hypothyroisn
Rendahnya kadar hormon tiroid karena kelenjar yang menghasilkan hormon tersebut dilakukan pembedahan.
2. Saraf Laringeus Cedera
Cedera saraf laringeus rekuren mungkin terjadi selama ligatur dan arteri tiroid interior. 
3. Hipoparatiroid
Kemungkinan pada saat pembedahan kelenjar paratiroid mengalami cedera.
4. Infeksi
Insisi yang dilakukan merupakan tempat untuk masuknya kuman karena terdapat jaringan yang terbuka.
5. Pendarahan atau Hemotoma
Tiroidektomi yang dilakukan dapat mengakibatkan kerusakan pembuluh daran yang mencetuskan adanya pendarahan atau hematoma.
6. Keloid
Adanya gangguan dalam proses penyembuhan luka mengakibatkan adanya keloid atau jaringan parut.